Syech Poer-Ji : Jangan Jadi “Manusia Setengah Muhammadiyah”, Kader Harus Aktif Berjuang di Persyarikatan

TAMANTIRTO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tamantirto Selatan kembali menyelenggarakan Pengajian Pimpinan, Kader, dan Pegawai AUM #39 pada Kamis (23/7/2026) di Masjid Khoirul Ummi. Pengajian menghadirkan Ust. Drs. H. Purwana, M.A., Bendahara MPI PP Muhammadiyah sekaligus Bendahara PDM Bantul, dengan tema “Komitmen dan Aktif di Persyarikatan Muhammadiyah, Kenapa Tidak?”

Dalam tausiyahnya, Ust. Purwana mengingatkan bahwa keaktifan di Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas organisasi, tetapi merupakan bagian dari ibadah, bentuk menjalankan perintah Allah, sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau mengajak seluruh kader agar tidak hanya menjadi anggota secara administratif, tetapi benar-benar hadir, berkontribusi, dan menghidupkan dakwah Persyarikatan.

Landasan tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104 tentang pentingnya menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta QS. Al-Anfal ayat 27 yang mengingatkan agar tidak mengkhianati amanah yang telah diberikan.

Beliau juga menekankan pentingnya menjadikan QS. Muhammad ayat 7 sebagai ruh perjuangan Muhammadiyah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Menurut beliau, ayat inilah yang dahulu menginspirasi perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah. Siapa pun yang ikhlas berjuang untuk agama Allah melalui Muhammadiyah, insyaAllah akan memperoleh pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Selain itu, Ust. Purwana mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk bangga menjadi bagian dari Persyarikatan. Muhammadiyah telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa melalui berbagai Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pelayanan sosial (feeding), pendidikan (schooling), dan kesehatan (healing). Muhammadiyah juga dikenal sebagai organisasi yang konsisten menjaga dakwah, tidak terjebak dalam politik praktis, serta melahirkan banyak tokoh dan pejuang bangsa.

Dalam materinya, beliau juga mengingatkan agar kader tidak menjadi “manusia setengah Muhammadiyah”, yaitu mereka yang hanya mengambil manfaat dari Persyarikatan tanpa memiliki semangat berjuang. Di antaranya adalah mereka yang hanya mencari keuntungan materi, membesarkan nama pribadi, aktif hanya saat memiliki kepentingan, atau mengaku Muhammadiyah tetapi tidak pernah mengikuti kajian, tidak mendukung gerakan Persyarikatan, dan tidak memahami manhaj Muhammadiyah.

Khusus bagi pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), beliau membagi empat karakter. Yang terbaik adalah mereka yang bekerja sekaligus aktif berjuang di Muhammadiyah. Sebaliknya, beliau mengingatkan agar tidak menjadi pribadi yang hanya mencari nafkah di AUM tanpa memberikan kontribusi, bahkan sampai merugikan nama baik Persyarikatan.

Sebagai penutup, Ust. Purwana menyampaikan beberapa langkah untuk memperkuat komitmen bermuhammadiyah, di antaranya memperkokoh tauhid, meningkatkan semangat jihad dengan harta, waktu, dan tenaga, memperbanyak ibadah sunnah, serta membiasakan sedekah dengan ikhlas demi kemajuan dakwah dan Amal Usaha Muhammadiyah.

Beliau menutup pengajian dengan pesan yang menginspirasi seluruh peserta:

“Di Muhammadiyah itu tidak perlu kondang, yang penting tumandang.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai seorang kader Muhammadiyah bukan diukur dari popularitasnya, melainkan dari kesungguhan dalam berkarya, beramal, dan memberikan manfaat nyata bagi umat, Persyarikatan, serta bangsa.