Ustadz Ananto Isworo Paparkan Pemberdayaan Umat Berbasis Lingkungan dan Ecomasjid

TAMANTIRTO – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tamantirto Selatan kembali menyelenggarakan Pengajian Pimpinan, Kader, dan Pegawai AUM seri ke-37 di Masjid Khoirul Ummi, Kamis malam (21/5/2026). Kajian bertema “Pengalaman Pemberdayaan Umat Level Ranting” ini menghadirkan Ustadz Ananto Isworo, S.Ag., penggerak lingkungan sekaligus Founder Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Masjid Al Muharram yang pernah masuk nominasi penghargaan Kalpataru tingkat nasional.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Ananto menekankan pentingnya implementasi konsep Ecomasjid dan pemberdayaan umat berbasis lingkungan di tingkat ranting Muhammadiyah. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat solusi berbagai persoalan masyarakat, termasuk isu lingkungan dan perubahan iklim.

Ustadz Ananto mengingatkan para pengurus masjid agar tidak sekadar mengikuti tren atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang hanya berfokus pada sektor hilir, misalnya maraknya program pembagian makanan gratis setiap hari Jumat. Tanpa menafikan manfaat program tersebut, ia mengajak takmir masjid untuk mulai memikirkan solusi sektor hulu, terutama menjaga kelestarian lingkungan sebagai upaya menghadapi dampak climate change atau perubahan iklim ekstrem yang kini mulai dirasakan masyarakat, khususnya pada sektor pangan dan pertanian.

Melalui tagline “Makmurkan Masjidmu, Makmurkan Bumimu”, ia menjelaskan bahwa masjid perlu mengambil peran aktif dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Salah satu langkah nyata yang ditawarkan ialah pemanfaatan energi bersih melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau panel surya.

Sebagai contoh, Masjid Al Muharram Brajan yang menjadi bagian dari gerakan yang dirintisnya mampu mengurangi biaya listrik hingga sekitar 85 persen, sehingga pengeluaran operasional masjid menjadi lebih efisien. Bahkan, masjid tersebut tetap dapat beroperasi secara mandiri ketika terjadi pemadaman listrik di wilayah sekitarnya. Selain manfaat ekonomi, penggunaan panel surya juga disebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga setara 34 ton CO₂ per tahun.

Selain pemanfaatan energi terbarukan, kajian juga membahas konsep Ekoteologi, yaitu penerapan nilai-nilai agama dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi nyata yang dapat dilakukan oleh warga dan organisasi tingkat ranting, di antaranya:

  • Sedekah Oksigen, dengan menanam pohon di pekarangan rumah sebagai bentuk tanggung jawab sosial menyediakan udara bersih.
  • Sumur Resapan dan Pemanenan Air Hujan, untuk meningkatkan daya serap tanah, mengurangi potensi banjir, dan menjaga ketersediaan air tanah saat musim kemarau.
  • Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Cair, memanfaatkan sisa makanan maupun limbah buah menjadi pupuk organik cair menggunakan komposter sederhana.
  • Gerakan Sodqah Sampah (GSS), dengan mengajak jemaah membawa sampah anorganik saat pengajian untuk dikelola menjadi sumber pendanaan sosial dan pendidikan.

Kajian berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satunya datang dari kepala sekolah SD Muhammadiyah Insan Kreatif Kembaran, Ernaningtyastuti, S.Pd. SD. yang tertarik menerapkan pengolahan limbah buah sisa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik cair di lingkungan sekolah.

Menutup kajiannya, Ustadz Ananto menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam dan hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menanam kebaikan serta menjaga bumi secara berkelanjutan (sustainable living).

“Menjaga bumi bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi,” pesannya.